ADAB KEPADA ALLAH SWT.
Menutut ilmu merupakan kewajiban bagi sorang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “ menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Dengan adanya ilmu hidup kita akan mulya. Untuk mencapai semua itu butuh kesungguhan dan juga kesabaran.
Dijaman ini banyak orang pintar dan mempunyai keilmuan yang luas. Tetapi dengan keilmuanya yang luas kurang tepat dalam pengapliasnya justru merasa paling benar dan merasa paling pintar dibandingka dengan yang lain. Maka adab dan etika perlu diterapkan sebagai penyeimbang ilmu dan kepintaran yang ia miliki. Sebab kepintaran sesorang tidak ada harganya apabila tidak memiliki adab etika yang baik. Tidaklah salah ketika ulama’ menempatkan adab diatas ilmu. Seperti perkataan imam malik kepada seseorang pemuda qurais. “pelajariah adab sebelum mempelajari ilmu”
Pelajaran / materi adab banyak sekali. Diantaranya adalah adab kepada Allah SWT.
Allah swt memberikan kepada kita nikmat yang begitu banyak, apabila kita menghitunya maka kita tidak akan mampu untuk menghitung nikmat Allah SWT, apalagi ingin membalas kenikmatanyang Allah berikan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. [an-Nahl/16:53]
Oleh karena itu Allah mempunyai hak yang menjadi kewajibanya bagi hambanya. Oleh karena itu kita harus mendahulukan hak-haknya Allah SWT dari hak-hak makhluknya. Diantara yang menjadi hak kita kepada Allah SWT dan menjadi kewajiban kita adalah memiliki adab yang baik kepada Allah SWT. Diantara adab kita kepada Allah SWT adalah .
- Beriman kepada Allah dan tidak kufur
Tidaklah beradab apabila seseorang itu tidak beriman dan kufur kepada Allah SWT, padahal Allah memerintahkan kepada hambanya untuk beriman kepadanya dan kepada perkara-perkaranya yang wajib diimani.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah , malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [an-Nisâ’/4:136]
- Bersyukur dan tidak kufur nikmat.
Allah setiap hari memberikan begitu banyak nikmat semua hambanya baik yang ia minta maupun yang tidak ia minta. Allah tidak mewajibkan kepada kita untuk membalas Nikmat yang Allah berikan, allah memerintahkan kepada kita untuk mensyukuri nikmatnya dengan menyakini bahwa nikmat itu adalah pemberian dari Allah, Melafalkan dengan lisan kita dengan bacaan tahmid dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [al-Baqarah/2:152]
Sungguh tidaklah beradap apabila seseorang mengingkari nikmat Allah dan tidak mau mensyukurinya.
- Mengingat Allah SWT dan tidak melupakanya.
Diantara kewajiban kita kepada Allah SWT adalah mencitainya diatas cita kepada makhluknya. Orang cinta akan selalu ingat, selalu menyebutnya dan tidak melupaknya. Orang yang melupakan Allah, maka Allah akan melupakanya dan membiarkanya dalam kesusahan. Allah SWT berfirman.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. [al-Hasyr/59:19]
Orang tidak ingat dan melupakan Allah SWT termasuk orang tidak beradap kepada Allah.
- Selalu taat kepada Allah SWT dan tidak maksiat.
Manusia adalah hamba, seorang hamba harus taat kepada yang menciptaknya. Jika diantara kamu ada perselisihan, maka kembalikan urusan itu kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (ulama dam umarâ’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [an-Nisâ’/4:59]
Sungguh tidak beradab, jika ada seorang hamba yang lemah berani menentang Penguasanya Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa dengan perbuatan maksiat dan kezhaliman.
- Tidak Mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs al-Hujurât /49:1)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Maksudnya : ‘Janganlah kamu berkata sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, janganlah kamu memerintah sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah, janganlah kamu berfatwa sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfatwa, janganlah kamu memutuskan perkara sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memutuskan perkara padanya dan melangsungkan keputusannya.”
- Takut terhadap siksa Allah SWT
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. [al-Mâidah/5: 44]
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Takut itu ada beberapa macam: Pertama : Takut karena ibadah, merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan. Inilah yang dinamakan khauf sirr. Ini tidak pantas kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Barangsiapa menyekutukan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan takut ini-pen) dia adalah orang yang melakukan syirik akbar. Contoh : Orang yang takut kepada patung, orang yang telah mati, atau orang-orang yang mereka sangka sebagai wali dan mereka yakini bisa mendatangkan manfaat dan bahaya bagi mereka, sebagaimana dilakukan oleh sebagian penyembah kubur, dia takut kepada penghuni kubur melebihi takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala “
- Malu Kepada-Nya
Allah maha melihat. Setiap aktifitas manusi Mengetahuinya, bahkan yang terbesit didalam hati, Allah SWT mengetahui. Tidaklah suatu adab yang baik, jika seorang hamba melihatkan perbuatan maksiat dihadapan majikanya, atau membalas kebaikan dengan perbuatan maksiat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan para sahabatnya agar benar-benar merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar merasa malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala !” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu ( kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala )” Beliau bersabda: “Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dikumpulkannya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, serta mengingat kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia akan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan ini, maka dia telah malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya
- Bertaubat kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW bersabda
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Semua anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang-orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertaubat.
Dari hadis di atas Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa salah satu sifat manusia adalah banyak berbuat dosa. Tidaklah beradab manusia apabila ia berbuat dosa tidak bertaubat kepada Allah SWT. Padahal Allah SWT maha penerima taubat.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [az-Zumar/39:53]
- Husnuzhan (berbaik sangka) kepada-Nya.
Berhusnuzhan kepada Allah SWT adalah merupakan adab yang baik. Tidaklah suatu adab yang tidak baik, jika seseorang bermaksiat mengira bahwa Allah tidak mengawasi dan membalanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ﴿٢٢﴾وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu, namun kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.
Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka kamu menjadi termasuk orang-orang yang merugi. [Fushshilat/41: 22-23]
Demikian juga termasuk buruk sangka, ketika seorang hamba melakukan ketaqwaan dan ketaatan, lalu dia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membalas amal baiknya.
Ditulis kembali Oleh Supriyono kepala MI Muhammadiyah Dolopo
https://almanhaj.or.id/38246-adab-terhadap-allah-subhanahu-wa-taala-2.html
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KHUTBAH JUMAT "MENELADANI RASULULLAH ﷺ DALAM MENGISI KEMERDEKAAN"
MENELADANI RASULULLAH ﷺ DALAM MENGISI KEMERDEKAAN اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْØ
Gempita Kemerdekaan RI ke-81 MI Muhammadiyah Dolopo Berakhir dengan Parade Mahkota Kemerdekaan
Dolopo – Gempita Kemerdekaan RI ke-81 MI Muhammadiyah Dolopo tahun 2026 resmi berakhir dengan kegiatan Parade Mahkota Kemerdekaan yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Kegia
Civitas MI Muhammadiyah Dolopo Khidmat Ikuti Upacara HUT RI ke-81
Dolopo, 17 Agustus 2026 — Seluruh civitas akademika MI Muhammadiyah Dolopo mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kh
Hukum Merayakan HUT Republik Indonesia dan Hormat Bendera Menurut Tarjih Muhammadiyah
Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Peringatan tersebut biasanya diisi dengan upacara bendera, penghormat
SD/MI Adalah Pondasi Pendidikan Anak: Memilih Sekolah yang Menanamkan Adab dan Tauhid yang Benar
Masa Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan fase yang sangat menentukan dalam kehidupan seorang anak. Pada jenjang inilah karakter, kebiasaan, akhlak, dan cara berpi
Sambut 1448 Hijriah, Siswa MI Muhammadiyah Dolopo 'Guncang' Jalanan dengan Cosplay Pahlawan Islam!
Madiun, 15 Juni 2026 – Hitungan jam menuju pergantian tahun baru Islam 1447 Hijriah ke 1448 Hijriah disambut dengan gemuruh kreativitas dan semangat membara di MI Muhammadiyah Dol
Semangat Puasa Arafah, 80 Persen Siswa MI Muhammadiyah Dolopo Ikut Mengamalkan Sunnah Nabi
Dolopo – Dalam rangka menyambut 9 Dzulhijjah 1447 H, MI Muhammadiyah Dolopo mengajak seluruh keluarga besar madrasah untuk melaksanakan puasa Arafah. Seruan ini ditujukan kepada s
Lepas Siswa Kelas 6, Ketua PCM Dolopo Ajak Wali Murid Jaga Pembiasaan Karakter Islami di Rumah
DOLOPO, MADIUN – Suasana haru, bangga, dan khidmat menyelimuti Aula Kampus 2 SMK Muhammadiyah 3 Dolopo, Dusun Ngendel, Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo. Pada Sabtu, 23 Mei 2026,
Puasa Tarwiyah Menurut Muhammadiyah: Lebih Tepat Niat Puasa Tarwiyah atau Puasa Dzulhijjah?
Menjelang Iduladha, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk puasa sunnah pada awal bulan Dzulhijjah. Di tengah masyarakat sering muncul pertanyaan: apakah ada puasa khus
Mengapa 10 Hari Pertama Dzulhijjah Sering Terlupakan? Padahal Ini Waktu Paling Dicintai Allah!
Mengapa 10 Hari Pertama Dzulhijjah Sering Terlupakan? Padahal Ini Waktu Paling Dicintai Allah! Oleh: Supriyono Alhamdulillah, saat ini kita telah memasuki bulan Dzulhijjah 1447 H. Bul